www.AlvinAdam.com

Berita 24 Sulawesi Utara

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Begini Potret Penganut Yahudi di Indonesia

Posted by On 09.57

Begini Potret Penganut Yahudi di Indonesia

Manusia Ahmadiyah Begini Potret Penganut Yahudi di Indonesia Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Dec 30, 2017 | 12:59 WIB Begini Potret Penganut Yahudi di Indonesia Ilustrasi penganut Yahudi di Indonesia (cnn/youtube) BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Setara Institute tentu memiliki beragam alasan ketika menunjuk Kota Manado sebagai daerah paling toleran di Indonesia. Di Ibu Kota Sulawesi Utara tersebut perbedaan agama bukan alasan perpecahan, tidak terkecuali dengan kaum minoritas penganut Yahudi. Di Manado, para warga negara Indonesia keturunan Yahudi mendirikan sebuah menara Menorah dan tempat peribadatan Sinagoga bernama Shaar Hashamayim. Sinagoga tersebut jadi yang terakhir dan satu-satunya di Indonesia. Sebelumnya, seperti dikutip dari The Times Of Israel, di Surabaya sempat berdiri sebuah sinagoga tua warisan kolonial Belanda. Namun pada Januari 2009 Sinagoga tersebut ditutup terkait serangan militer Israel ke Palestina. Lain Surabaya maka lain Manado. Komunitas Yahudi di Manado hidup damai dan berdampingan dengan agama lainnya. Padahal letak Sinagoga Shaar Hashamayim berdekatan dengan beberapa gereja Protestan. Warga sekitar juga menganut berbagai agama di. "Kami dapat memakai kippah (penutup kepala Yahudi) di tempat perbelanjaan atau dimana saja. Ini bukan masalah," ujar Ketua Jemaat Yahudi Manado Rabbi Yobby Hattie Ensel kepada kantor berita Agence France Presse seperti dikutip dari Daily Mail. Namun, lantaran Yahudi belum diakui sebagai agama resmi maka para penganut Yudaisme di Indonesia mencatatkan dirinya sebagai Kristen Protestan dalam data kependudukan. Sebenarnya keberadaan Yahudi di Tanah Air t elah berlangsung sejak lama. Bahkan sebelum Indonesia merdeka. Hal tersebut seiring dibentuknya Asosiasi Yahudi Hindia Belanda yang ketika itu memiliki anggota di berbagai kota seperti Bandung, Jakarta, Malang, Medan, Padang, Semarang dan Yogyakarta. "Masyarakat Yahudi sudah ada di Indonesia jauh sebelum negara ini lahir," ujar Ketua United Indonesian Jewish Community (UIJC) Rabbi Yaakov Baruch seperti dikutip dari Daily Mail. Adapun catatan awal mengenai jejak Yahudi di Indonesia dapat terlihat dari penemuan batu nisan dengan lambang Bintang Daud dan tulisan Ibrani. Indonesia sendiri menjadi tempat ideal bagi para imigran Yahudi pada abad 19 lantaran berada di bawah kolonial Belanda. Pedagang Yaman, Maroko, Irak dan ekspansi bisnis Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) memegang peranan penting terkait keberadaan Yahudi di Indonesia. Populasi tertinggi Yahudi di Indonesia berlangsung pada masa sebelum Perang Dunia II yang mencapai ribuan penganut. Namun, ketika Indonesia diduduki oleh Jepang pada tahun 1942, perlahan angka tersebut menunjukan grafik penurunan. Jepang membuat sebuah kebijakan untuk menangkap para penganut Yahudi karena memiliki kerjasama dengan Nazi Jerman. Pasca kemerdekaan, Presiden Soekarno melalui Pepres Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan Agama tidak menyertakan Yudaisme sebagai satu dari enam agama yang diresmikan pemerintah. Kini, banyak penganut Yahudi di Indonesia tidak berani menunjukan identitasnya, terutama bagi mereka yang bukan tinggal di Manado. Penganut Yahudi di Jakarta melakukan aktivitas peribadatan secara tertutup dan bersembunyi. Ketegangan di Timur Tengah yang menyertakan Israel sebagai tokoh utama menjadi penyebabnya. Apa yang dilakukan Israel pada Palestina memang membuat masyarakat dunia kompak membencinya. Terlebih Presiden Joko Widodo terang-terangan menegaskan keberpihakan pada kemerdekaan rakyat Palestina. Apalagi, menurut Setara Institute, sikap intoleransi di Indonesia berada pada level basis sosial yaitu masyarakat. Sikap tersebut tentu tidak hanya berlaku bagi penganut Yahudi. "Itulah yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir," ujar peneliti Setara Institute, Halili kepada ayobandung beberapa waktu lalu. Editor : A. Dadan MuhandaSumber: Google News | Berita 24 Sulut

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »